Legenda dan Sejarah Desa Penimbun Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

Legenda dan Sejarah Desa Penimbun Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

Legenda dan Sejarah Desa Penimbun Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

A. LEGENDA DESA

Desa Penimbun meupakan salah satu desa di Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen. Dimana Desa Penimbun terbagi menjadi dua dusun yaitu krajan dan prapatan. Diberi nama krajan karena wilayah pusat pemerintahan desa, dan prapatan ada dijalan penghubung batas desa yaitu, yang kearah barat Brencong, kearah timur Ginandong, kearah barat Kenteng dan kearah selatan Krajan. Dari dua dusun tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa blok. Disusun Krajan ada Blok Gligir kulon, wetan, Balak, Tegong, Karangmangu, Legok, Karangpetir, Ketapang, Gamblok, Watulawang, Watubarud, Wadasmalang, Silumut, Pendil, Sijambu, Sikunang, Gintung, Banjaran, dan Mertelu.

Dari sekian banyak nama-nama blok yang ada, masing-masing blok mempunyai cerita sendiri. Seperti blok ketapang karena dahulu dipertigaan jalan tumbuh pohon ketapang yang sangat besar. Gamblok karena tanahnya selalu longsor, setiap selesai ditambal (digamblok) pasti longsor kembali. Watulawang karena ada batu besar yang berada dikanan kiri jalan menyerupai pintu (lawang). Watu barud karena ada batu seperti bayi dan bedong (dibarud). Wadasmalang Karena posisi batu yang memotong arus sangat luar biasa banyaknya. Sijambu karena tumbuh pohon jambu yang sangat besar. Gintung karena tumbuh pohon gintung, sementara Tegong karena arus sungai yang menikung tajam dan Kedungnangka karena sangat bagus buahnya apabila ditanami pohon nangka

Sebagian blok yang lain mempunyai sejarah yang saling berkaitan. Menurut cerita pada jaman dulu desa Penimbun kedatangan seorang  pengelana. Pada suatu malam ia didatangi oleh makhluk aneh yang bentuknya tinggi besar dan bertaring panjang (keblek/genderuwo). Taringnya sampai bisa dijulurkan di pengeret (kerangka rumah jawa). Kemudian taring itu ditetas dengan pedang oleh sipengelana. Maka putuslah taring makhluk aneh tersebut dan potongan taring itu diambil oleh sang pengelana. Keblekpun berteriak kesakitan sampai suaranya terdengar terdengar kemana-mana, sehingga banyak orang berdatangan sambil membawa obor. Karena banyaknya obor terlihat seperti kunang-kunang, maka tempat itu diberi nama sikunang.

Sementara disebelah selatan orang-orang juga mendengar teriakan keblek, namun mereka kebingungan mencari sumber suara sambil termangu-mangu, kemudian tempat itu diberi nama karangmangu. Orang-orang terus berdatangan dan berjajaran,sehingga tempat tersebut terkenal dengan nama Banjara. Sampai ditempat kejadian orang-orang mencari pengelana yang memotong taring keblek. Kemudian membagi menjadi 3 kelompok. Dari kata 3 tempat tersebut dikenal dengan Mertelu. Namun ditempat lain terdengar suara kentongan (titiran) yang akhirnya tempat itu disebut karangpetir. Pengelana akhirnya ditemukan disebuah tempat. Namun pada saat akan memperlihatkan potongan taring keblek yang disimpan dalam kantong, tanpa sengaja melukai perutnya dan akhirnya pengelana mati (tulus).

Tamatlah sudah riwayatnya dan meninggalkan nama untuk tempat itu yaitu pelusan alias lulusan. Desa Penimbun sendiri pada awalnya bernama Tanimbun yang berasal dari kata “Te” dan “Rembun”. Te artinya batu dan Rembun artinya tampak atau ditemukan. Kata Te itu sendiri dinisbatkan/dialihkan Pe sehhingga kata Tenimbun menjadi Penimbun, dan jadilah nama Desa Penimbun.  Menurut cerita para sesepuh desa, pada jaman dahulu (diperkirakan tahun 1470) ada segerombolan da’i (wali) merencanakan akan membangun sebuah Masjid. Mereka mengumpulkan material batu yang sangat besar, kemudian dijadikanlah batu itu sebagai tanda desa. Para wali mulai membangun masjid yang rencananya harus selesai dalam waktu satu malam.

Namun baru saja mulai pemasangan pondasi, terdengar suara gaduh orang-orang sedang bermain judi, dan orang-orang yang akan berangkat kepasar sehinngga menyebabkan ayam berkokok. Para wali mengira waktu sudah menjelang fajar. Pembuatan masjidpun dibatalkan alias wurung. Para wali melanjutkan perjalanan menuju ke Demak dan membangun Masjid Demak. Sampai sekarang pasangan pondasi tersebut masih adda dan tempat itu diberi nama Batur atau Kuwu Masaran. Dari cerita tersebut Penimbun juga terkenal dengan sebutan desa wurungan alias obor-obor pet, karena setiap melakukan suatu kegiatan pasti hanya pada awalnya saja masyarakat bersemangat.

Masyarakat Desa Penimbun mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Namun menurut salah seorang narasumber, Islamnya adalah Islam abangan yang artinya walaupun menjalankan ajaran agama Islam namun tetap menjalankan adat atau tradisi yang berupa ritual. Riitual yang ada di Desa Penimbun Antara lain, ruat bumi pada bulan syura yang bertujuan untuk meminta pertolongan pada yang maha kuasa agar desa penimbun dijauhkan dari segala bencana dan malapetaka. Dalam ruwat bumi itu diadakan pertunjukan wayang kulit dan memotong kambing kendit (kambing yang bagian perutnya berbulu putih melingkar)  yang kepalanya ditanam didepan rumah kepala desa. Yang melatar belakangi ritual ini karena wayang kulit merupakan kesenian tradisional yang dijadikan alat menyebarkan agama Islam dan masyarakat Penimbun pada jaman dahulu beragama Hindu.

Sementara pemotongan kambing kendit yang kepalanya ditanam dihalaman kepala desa bertujuan agar warga desa Penimbun aman dari pencurian. Ritual tersebut merupakan wangsit dari eyang Tapawira. Karena dahulu di Desa Penimbun terjadi pencurian setiap malam tanpa henti-hentinya. Para pencuri menggunakan kesaktian sehingga sulit ditangkap dengan keadaan biasa. Maka diperintahkan masyarakat untuk memotong kambing kendit yang kepalanya pada saat itu di tanam di blok banjaran sebagai tumbal agar tidak terjadi pencurian. Dan ternyata setelah dilaksanakan ritual tersebut desa penimbun aman dari pencurian.

Selain ruwat bumi, ada juga ritual Gecok Pitik Crancam terong Giling Pitu, ( Ayam panggang dikasihsantan mentah dengan bumbu yang sangat pedas, terong kengkeng dibumbu sambal cabe merah dan nasi di giling kecil-kecil berjumlah tujuh. Ritual ini dilaksanakan karena masyarakat desa Penimbun masih keturunan kerajaan mataram. Konon diceritakan pada saat Sultan Hadiwijaya ( yang kemudian terkenal dengan Ki Ageng Mataram ) akan membangun kerajaan harus membuka lahan hutan (babad) terlebih dahulu. Namun hutan yang akan dibabad sangat wingit (angker). Ibaratnya burung terbang diatasnya bisa langsung mati. Sultan kemudian meminta bantuan pada Nyi Roro Kidul untuk mengatasi masalah tersebut.

Atas saran Nyi Roro Kidul, sultan diminta membuat Gecok Pitik Crancam Terong Giling Pitu sebagai tolak bala (penangkal malapetaka) dan sampai sekarang ritual tersebut masih dianggap sebagai penolak bala oleh masyarakat Desa Penimbun. Ritual ini selain dilaksanakan pada saat ruwat bumi juga setiap saat ada tanda tanda akan datang bencana atau malapetaka di Desa Penimbun dan orang-orang yang sedang mempunyai hajat dalam proses Bedah ( membukarumah untuk para tamu). Dalam ruwat bumi ini juga tidak ketinggalan dengan yang namanya sesajen. Sesajennya adalah pisang raja dua sisir, pisang ambon sejodo, kelapa ijo, sayur daun kelor dan menir ( beras kencur ), serabi, cethil, sambal tawon, nasi campur pisang, rendaman dauntawa, jarit lurik, klambi gadung, benting putih, iket wulung, parem gadung, rakan ( bias dibeli dipasar ), sepasang bunga kanthil, wedang yang terdiri dari the pahit, kopi pahit, air putih, arang – arang kambang dan jem bawuk.

Sesajen ini juga harus disediakan setiap malam jum’at kliwon oleh Kepala Desa, dan Kepala Desa juga diharuskan ngobongi ( bakar kemenyan ) ke kuwu. Desa Penimbun memiliki berbagai pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap orang yang dating ke Penimbun. Pantangan pantangan tersebut adalah tidak boleh menjual nasi rames. Diceritakan pada jaman dahulu ada seorang pengelana yang datang ke Desa Penimbun dan kelaparan. Pada saat meminta nasi Kepada warga, tak ada seorangpun yang mau memberi. Akhirnya pengelana mengeluarkan kalam ( Kutukan ) yang intinya di Desa Penimbun tidak boleh ada yang menjual nasi dan harus memberikan Cuma-Cuma bila ada kelaparan. Apabila ada yang menjual nasi maka terjadilah malapetaka. Pantangan yang lain adalah “ tidak diperbolehkan masyarakat Desa Penimbun anggap Wayang Golek, Karena menurut kepercayaan, Desa Penimbun dijaga oleh seorang Dewi yanitu Dewi Rengganis.

Dalam cerita wayang golek ada tokoh yang bernama Dewi Rengganis. Dewi Rengganis yang menjaga Desa Penimbun tidak mau disamai, dia akan merasa sedih dan terjadi malapetaka seperti orang gantung diri dan gila mendadak apabila nanggap wayang golek. Satu lagi pantangan yang ada di Desa Penimbun yaitu : “ para pemimpin desa tidak boleh menengok orang sakit dan melewat/melayad orang meninggal pada hari selasa dan Sabtu karena hari itu adalah hari naas desa. Menurut kepercayaan pada dua hari itu Dewi Rangganis sedang tidak berada di wilayah Desa Penimbun sehingga tidak ada yang menjaga para pemimpin desa. Desa Penimbun dipimpin oleh seorang Kepala Desa, sejak masa kepemimpinan kepala desa pertama kali sampai saat ini masyarakat Penimbun masih menjalankan ritual dan membuat sesajen yang dipercaya untuk menjaga keselamatan desa dan keluarganya.

Kepala Desa yang pernah memimpin desa Penimbun yang pertama hingga saat ini sebagai berikut:

• Kepala Desa ke-1 : Darpa Periode tahun tidak diketahui

• Kepala Desa ke-2 : Samijaya Periode tahun tidak diketahui

• Kepala Desa ke-3 : Mertajaya Periode tahun tidak diketahui

• Kepala Desa ke-4 : Muryantika Periode tahun tidak diketahui

• Kepala Desa ke-5 : Suranama Periode tahun tidak diketahui

• Kepala Desa ke-6 : Arjawintana tidak diketahui mulai menjabat, akhir tahun jabatan 1984

• Kepala Desa ke-7 : Karyawijaya periode tahun 1985 s/d tahun 1993

• Kepala Desa ke-8 : Darisman periode tahun 1993 s/d tahun 2001

• Kepala Desa ke-9 : Darisman periode tahun 2001 s/d tahun 2007

• Kepala Desa ke-10: Sakirin periode tahun 2007 s/d tahun 2013

• Kepala Desa ke-11: Sri Mulyani tahun 2013 s/d 2019

• Kepala Desa ke-12: Saijan tahun 2019 s/d 2025

Dahulu kepala desa dikenal dengan nama Kerta Desa. Banyak kepala desa yang tidak diketahui periode jabatannya, karena pada saat itu masyarakat Penimbun sebagian besar tidak mengerti yang namanya tahun. Masyarakat hanya mengingat musim yang sedang terjadi, dan masa jabatan kepala desa juga tidak diatur seperti sekarang. Pengertian masyarakat pada saat itu, masa jabatan Kepala Desa seumur hidup. Sejak Desa Penimbun berdiri hingga sekarang banyak sekali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi baik peristiwa yang baik maupun peristiwa yang buruk. Namun dari sekian banyak yang tidak diingat dan diketahui oleh para narasumber dan catatan dibawah ini adalah peristiwa yang dapat diingat saja. Dari berbagai peristiwa yang terjadi dan hal-hal yang menjadi kebiasaan masyarakat diharapkan bisa menjadi pembelajaran yang lebih baik bagi masyarakat Desa Penimbun untuk saat ini dan masa yang akan datang sesuai dengan perkembangan jaman, dan masyarakat Penimbun tetap menghargai budaya yang ada serta melestarikannya.

B. SEJARAH DESA

Tahun Kejadian Peristiwa Baik/ Peristiwa Buruk

1963 Terjadi hama tikus yang luar biasa menyebabkan paceklik pangan

1967 Terjadi banjir bandang merendam Desa Penimbun karena hujan deras yang juga mengakibatkan jebolnya waduk sempor

1969 Perintisan pendidikan sekolah dasar dengan sarana sederhana Ruang sekolah terbuat dari gedek dan lantai tanah

1976 Awal pembangunan gedung SDN (Inpres)

1978 Ada KKN UI sosialisasi pentingnya kesehatan

1980 Pembuatan jembatan bambu sebagai sarana penyebarangan disungai, Pelebaran jalan desa, Pembrantasan nyamuk DDT, KKN mahasiswa UGM dari Yogyakarta

1982 Hama wereng melanda desa Penimbun menyebabkan gagal panen

1983 Pembangunan balai desa dengan rumah jawa sebagai sarana pelayanan masyarakat Wabah penyakit malaria, kemarau panjang, tanah longsor dan balai desa Penimbun ambruk

1984 Pembangunan jembatan permanen secara swadaya didusun Krajanbiok Kedungmindri

1990 Terjadi tanah longsor di dusun Prapatan

1994 Program PDM-OKE dari pemerintah membangun prasarana jembatan didusun prapatan

1995 Panen raya padi gogo yang dihadiri oleh Bupati Kebumen Bpk. Amin Sudibyo dan dijadikan desa percontohan bibit padi gogo unggul, Masuk bidan Desa Penimbun yang pertama

1996 Pembangunan balai desa bantuan bangders dari pemerintah, Rehab jembatan di dusun Krajan oleh Perhutani

1997 Masuk Listrik PLN di dusun Krajan Desa Penimbun Krisis moneter menyebabkan banyak pengangguran di Desa Penimbun

2000-2002 Pengaspalan jalan protokol desa 2,2 km swadaya bantuan aspal dari kabupaten, Pembangunan masjid desa

2002 Terjadi kebakaran hutan

2003 Lembaga plan Indonesia masuk Desa Penimbun untuk pendampingan desa pemenuhan terhadap hak dasar anak, Adanya PPK untuk program pembangunan sarpras jembatan dan SPP terjadi kebakaran rumah penduduk

2004 Masuknya trayek angkutdes Gombong-Penimbun, Adanya Gerhan penghijauan bibit jati bantuan pemerintah

2005 Pengembangan jaringan listrik PLN didusun Prapatan, Perintisan TK di dusun Krajan dan Prapatan oleh Plan Indonesia Kebumen dan pembangunan gedung TK di dusun Krajan program Plan bersama masyarakat, Pembangunan pangkalan/parkiran angkutdes dan diawali peletakan batu pertama oleh Bupati Kebumen ( Ibu Rustriningsih ) Warga dusun Prapatan ditipu oleh BTL (pelaksana) tentang pemasangan jaringan listrik PLN Banjarnegara

2006 Pembangunan gedung TK didusun Prapatan program Plan bersama masyarakat, Pembangunan Kios Desa sebanyak 8 unit ADD bantuan pemerintah Masyarakat terjangkit penyakit demam berdarah

2007 Pembangunan sarana air bersih di dusun Prapatan bantuan Plan Kebumen kerjasama dengan masyarakat, Pembangunan jalan makadam di dusun Prapatan PPK bantuan pemerintah dan rabat beton lingkungan stimulan kabupaten secara berkala

2008 Pembangunan gedung posyandu di dusun prapatan bantuan Plan kebumen, Pembangunan Gd. Pertemuan desa bantuan ADD, Pembangunan rabat beton jalan di dusun prapatan dan bantuan beasiswa SDN dan SMP bantuan PNPM-MPd

2009 Pembangunan talud jalan dusun prapatan dan jembatan beton blok pelusan bantuan PNPM-MD, Perumusan/penyusunan draft Perdes batas wilayah desa dan perlindungan anak kerjasama plan kebumen Talud balai pertemuan hanyut terbawa banjir dan tanah longsor di dusun

2010 Awal pembangunan Embung DAS Kalong, KKN Stainu Kebumen

2011 Desa tidak menerima PNPM-MPd ( diskualifikasi )

2012 SISMIOP pendataan dan pemetaan tanah, KKN Stainu kebumen

2013 Pembangunan betonisasi jalan poros desa dari jembatan Kedunggondang Krajan sampai dengan jembatan Mertelu Prapatan (PPIP), Pembuatan sertifikat tanah masal 100 bidang (prona), KKN Stainu Kebumen, Peresmian Embung DAS Kalong oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo

2014 Awal menerima Banprov untuk pembuatan betonisasi jalan blok sijambu dan gligir kulon

2015 Awal Dana Desa (DD) dari pemerintah pusat

Sumber artikel https://geoparkkarangsambung.id/legenda-dan-sejarah-desa-penimbun-kec-karanggayam/